• ??? ????
  • ??? ????
  • Puisi Zawawi Imron Cerminan Budaya Bugis Makassar

    Wed,11 July 2012 | 09:20

       
    Tag

    Lingkup perjalanan D. Zawawi Imron begitu jauh dan luas, mencakup rimba, laut, sungai, gunung, bumi dan nilai budaya manusia Bugis-Makassar.
     
    LAPORAN: MUHAMMAD NURSAM, Makassar
     
    Begitulah pendapat Nunding Ram tentang sosok D. Zawawi Imron. Kumpulan puisinya yang berjudul Mata Badik Mata Puisi (MBMP) menjadi karya yang fenomenal dan dibacakan oleh sejumlah tokoh Sulsel. Pembacaan puisi berlangsung di lantai 4 gedung Fajar Graha Pena, Selasa, 10 Juli, malam tadi.


    Tokoh-tokoh yang hadir, selain Ketua Pusat Kebudayaan Unhas, Nunding Ram, hadir pula sejumlah seniman, akademisi, pengusaha, bahkan mahasiswa. Jadilah acara malam tadi sebagai pembacaan puisi Zawawi Imron yang terbesar dan terlengkap di Makassar sejak sekian kali penyair Madura ini berkunjung ke Sulsel. Selain launching buku MBMP, kegiatan tersebut sekaligus rangkaian ulang tahun ke-10 Esensi._


    Asia Ramli Prapanca mengawali pembacaan puisi. Dengan penghayatan yang tinggi, seniman Sulsel ini membacakan dua karya Zawawi yaitu "Badik" dan "Teruskan Menari". Ram Prapanca, yang memang dikenal sangat mahir membacakan puisi ini mampu membuat pengunjung berdecak dengan gelegar suara dan penghayatannya terhadap karya Zawawi Imron. 


    Sunarti Sain kemudian meminta sejumlah tokoh naik ke panggung. Mereka antara lain, Ishak Ngeljaratan, Ahyar Anwar, Moh Sabri, Alwi Rahman, Tenri A Palallo, dan beberapa tokoh lainnya. Semua tokoh yang naik di panggung menerima buku kumpulan puisi yang diserahkan langsung oleh KH D Zawawi Imron.


    Muhary yang menghubungkan Esensi dengan sejumlah seniman Sulsel juga hadir dan membacakan puisi. Sama seperti Ram Prapanca, kemahiran penyair yang diundang ke Ubud Writers and Readers Festival Bali ini tak diragukan lagi. Para pengunjung yang hadir seperti tersihir dengan suara khasnya yang berserak namun terdengar tegas. Dia membacakan dua buah puisi, salah satunya berjudul "Badik Makrifat"


    "
    Aku tempa badikku/ dengan seluruh cinta/seluruh nyawa/Besi bumi Luwu/Besi jantung kakek moyangku/Besi yang logam/Logam yang baja/Baja yang jiwa/Karena aku yang aku/bukan cuma raga".
    Begitulah isi bait pertama puisi berjudul Badik Makrifat yang dibacakannya. Pembacaan kemudian dilanjutkan oleh Hendra Gunawan.


    Giliran Udhin Palisuri, dia ditemani rekannya membacakan puisi dengan diiringi musik. Jadilah pembacaannya sedikit berbeda karena merupakan pembacaan "semi" musikalisasi puisi. Usai membaca karya Zawawi Imron, dia kemudian membaca puisi hasil karyanya yang dipadu dengan nyanyian Bahasa Makassar oleh rekannya, Abdi Bashit. Pada salah satu baitnya, ada kalimat "Bacalah Alquran agar kita pandai bersyukur".


    Giliran mantan ketua KPU Gowa Risma Niswati, membacakan puisi. Dia mengaku baru kali ini membaca puisi setelah 15 tahun menanggalkan kemampuannya. Perempuan yang pernah menjabat ketua KPU Gowa ini mengatakan, awalnya dia tidak berani membacakan puisi di hadapan para seniman. Namun karena Muhary berhasil memintanya akhirnya dia membacakan puisi lagi.


    Asmin Amin juga tampil dengan penampilan cukup ekstrem. Bercelana pendek dan baju dalam kaos dipadu sepatu yang semunya berwarna hitam. Dia membacakan puisi berjudul Khalifah Hati Nurani V.


    Tidak hanya para senima yang tampil. Una, sapaan Sunarti Sain, juga meminta salah seorang remaja tanggung, Fitri, dari Yayasan Rumah Seni Anak, membacakan puisi berjudul "Magrib di Losari". Dia mendapat aplaus hangat dari para pengunjung yang memadati ruang seminar Graha Pena lantai empat itu.


    Una kemudian meminta Spasi membawakan musikalisasi puisi. Dimana salah satu personelnya adalah Dian Hendianto yang juga redaktur Harian FAJAR. Puisi yang dimusikalisasi tersebut, kata Dian, pernah dibawakannya pada Festival Puisi Internasional di Baruga Pettarani Unhas. Puisi tersebut berjudul "Lagu Laut".


    "Sampaikan salamku, wahai kecipak laut!/ Pada bumi Bugisku yang hangat/Perahuku teramat jauh kini berlayar/kutembangkan siul di tengah jerit lautan/".


    Suara Dian bersama dua rekannya menyanyikan bait pertama puisi ini juga mendapat aplaus yang tak kalah dari musikalisasi yang dibawakan Udhin Palisuri. Ketiga personel Spasi ini tampak menghayati setiap bait puisi ini.


    Sesi Testimoni, Dr Nunding Ram menyampaikan, membaca merupakan inti kebudayaan. Sang penyair, kata dia, membaca alam, membaca Sang Pencipta, dan membaca dirinya sendiri. "Semakin kita membaca karya-karya D Zawawi Imron, semakin kita rasakan siapa sang penyair sebenarnya," katanya.


    Demikian pula pendapat Alwi Rahman, Moh Sabri, dan Ahyar Anwar. Mereka semua sepakat, isi dari puisi-puisi D Zawawi Imron dalam buku MBMP merupakan pernyataan tentang budaya Bugis-Makassar. "Ini merupakan refleksi budaya manusia Bugis Makassar. Madura cukup jauh, tapi mengapa Zawawi Imron mampu menuliskannya.

    Sudah begitu keraskah hati kita sehingga tidak bisa menuliskan tentang budaya kita. Mari kita memetik pelajaran dari nenek moyang kita. Mereka mampu menuliskan kitab yang lebih panjang dari Mahabarata," ujar Nunding Ram, seraya mengungkap tentang kehebatan kitab sastra I La Galigo.


    Ketua Yayasan Esensi, Wahyuddin Kessa, mengaku mendapatkan semangat dari puisi-puisi D Zawawi Imron untuk terus berkarya. Esensi, kata dia, merupakan organisasi nirlaba yang didirikan pada tahun 2002. "Esensi lahir sebagai media diskusi. Pak Zawawi sering singgah ke sana. Di situ kita memikirkan dan berdiskusi tentang situasi negeri kita," katanya.


    Dia mengatakan, sebelum buku MBMP diterbitkan Esensi, banyak penerbit yang meminta agar puisi seniman asal Madura ini diterbitkan. "Namun beliau memilih agar diterbitkan oleh komunitas Esensi. Mudah-mudahan tradisi seni seperti ini tidak berawal dan berakhir di sini namun akan terus berlanjut," harapnya. (bersambung/sil)

    Be Social with IYAA

    1/300

    Kirim Komentar

    Coba bilang "IYAA~~~"

    Headline News